Manaqib Sayyidatuna Fathimah Az Zahra Bagian (5)

Oleh Na’am Qolby Ma’ak

Tidak di ragukan lagi khitob yang di tujukan ayahnya semakin membuat semangat dan menggerakkan Sayyidatuna Fathimah serta memberi kekuatan yang luar biasa dalam hatinya. Seakan-akan Nabi SAW memberikan amanat yang besar dan mengkhususkan dengan perintahnya.

Di masa kecil Sayyidatuna Fathimah selalu mengikuti di belakang ayahnya kemana Beliau pergi.. Mengikuti ayahnya ketika berjalan di jalan-jalan Makkah, karena kaum Quraisy telah menyakiti Nabi SAW bahkan, mengirim pengintai untuk mengintai Nabi SAW. Fathimah takut dengan keadaan ayahnya. Sayyidatuna Fathimah telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekerasan yang mana tak pantas anak sekecil itu melihanya. Ulama’ berkata,
“Bahwa Fathimah tumbuh dengan pertumbuhan yang bagus. Mempersiapkan anak cucu yang ada di rahimnya dan menumbuhkan sifat keimanan yang kuat. Karena di masa sekecil itu Fathimah menghadapi banyak cobaan yang berat. Maka terbentuklah dalam diri Fathimah kepribadian yang kuat dan mandiri yang mana dengannya memberikan kesiapan atas dirinya untuk mendidik anak-anaknya kelak.”

Suatu hari Sayyidatuna Fathimah keluar yang mana tidak tergambarkan dalam benak kita, anak perempuan sekecil ini, yang sangat lembut hatinya, rahmat terhadap sesama, seseorang yang penuh rasa kasih sayang, yang terdidik di rumah yang penuh keistimewaan. Keluar mengikuti ayahnya menuju Ka’bah. Ketika Nabi SAW sedang melakukan Ibadah, Sayyidatuna Fathimah menunggui di samping ayahnya. Ketika ayahnya sedang sujud, datang paling celakanya manusia yaitu Uqbah bin Abi Mu’aith beserta teman-temannya. Mendekati Nabi yang sedang sujud. Uqbah menginjak kakinya di atas kepala Rosulullah SAW. Kemudian menarik Nabi dan mencekiknya dengan sangat kuat. Sehingga mata Nabi SAW menonjol keluar. Datang Sayyidina Abu Bakar RA dengan berlari. Berusaha mencegah ini. Menahan ini.. Menarik ini.. Sedang Fathimah hanya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri atas kejadian ini yang di iringi air mata dan berdo’a. Kemudia Uqbah dan teman-temannya berpindah memukuli dan menyiksa Sayyidina Abu Bakar. Sayyidatuna Fathimah bergegas menolong ayahnya dan membawa pulang.

Pulang dalam keadaan menangis dan penuh kesedihan dalam hati Sayyidatuna Fathimah. Anak kecil itu menyaksikan ayahnya di aniaya orang-orang Quraisy. Seharusnya, mereka berbuat baik. Karena ayahnya orang yang terkenal pemurah. Jujur. Yang selalu di perbincangkan kejujurannya. Dialah orang yang menyelesaikan pertikaian Quraisy dalam meletakkan Hajar Aswad. Menyelamatkan Quraisy dari perpecahan, permusuhan dan pembunuhan. Tapi sekarang apa balasan mereka..??!! Apa kehendak mereka..??! Yang mana Nabi SAW tak pernah bergaul kecuali dengan Mahabbah.

Sayyidatuna Fathimah mengemban derita yang mendalam di masa-masa pertumbuhannya. Di masa kecil yamg seharusnya tidak mengenal kecuali kasih sayang, kelembutan dam kegembiraan. Akan tetapi Sayyidatuna Fathimah hidup dengan penderitaan ini dan mulai merasakan kesedihan atas ayahnya SAW. Maka kembalilah Nabi SAW ke rumahnya, duduk di samping Sayyidatuna Fathimah yang hanya bisa membisu dan menatap wajah Ayahnya atas apa yang telah menimpa Sang Ayah..

(Bersambung…)

Pos ini dipublikasikan di Manaqib Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s