Kalam Habib Ahmad Bin Abdurrahman Assegaf- Hakekat Eidul Fitri Yang Sebenarnya (2)

Al Imam Anas bin Malik pernah berkata, “Orang mukmin setidaknya mempunyai lima hari raya. Pertama, setiap hari yang di lewati orang mukmin tanpa melakukan dosa, ia akan merasakan Hari Raya di hari tersebut. Kedua, Suatu hari jika ia mati dengan membawa Iman dan Syahadat, maka itulah Hari Raya terbesar baginya. Ketiga, suatu hari jika ia melewati Shirat dan ia selamat dari jilatan api neraka, maka itulah Hari Raya bagi dirinya. Keempat, suatu hari ketika ia di masukkan ke dalam syurga tanpa hisab, maka itulah Hari Raya bagi dirinya. Kelima, suatu hari jika di dalam Syurga dan mendapatkan kemulian yang Maha Hebat yaitu dapat memandang Wajah Mulia Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka itulah Hari Raya yang tiada banding baginya dan di dambakan seluruh hamba.

Di ceritakan dari Anas bin Malik Ra dari Nabi SAW pada suatu hari beliau keluar ketika selesai menunaikan Shalat Eid. Nabi SAW melihat anak-anak kecil sedang bermain satu sama lainnya, namun ada seorang bocah yang duduk seorang diri berlinang air mata memandang wajah teman-teman yang sedang riang gembira.

Nabi SAW menghampirinya seraya berkata,
“Wahai anakku, kenapa engkau menangis? Dan mengapa engakau tidak ikut bermain bersama mereka?”
Bocah kecil itupun menjawab tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang datang kepadanya,
“Wahai paman, ayah dan keluargaku meninggal dunia, gugur sebagai Syuhada membela perjuangan Rasulullah SAW. Kemudian ibuku nikah lagi dan memakan seluruh harta peninggalan ayahku serta suaminya yang baru mengusirku dari rumahnya. Hari ini aku belum makan, belum merasakan setetes airpun, akupun tidak punya baju dan tidak ada tempat berteduh bagi diriku. Oleh karena itu ketika aku melihat teman-temanku dalam keadaan riang gembira dengan baju yang bagus bersama orang tua mereka, Bagaimana aku tidak bersedih?”

Maka Rasulullah SAW menggendong bocah itu dengan tangan nya yang mulia dan membelainya seraya berkata,
“Wahai anakku, maukah engkau aku jadi ayahmu? Aisyah sebagai ibumu? Ali sebagai pamanmu? Hasan dan Husain sebagai saudaramu? Fatimah sebagai saudarimu?”

Maka tahulah bocah itu bahwa yang menggendongnya adalah Rasulullah SAW. Iapun berkata, “Bagaimana aku tidak senang Ya Rasulullah….!”

Sesampainya di rumah, Nabi SAW mengenakan baju yang baru, memberikan makanan yang lezat dan memberìnya wewangian. Dengan senyum kegembiraan anak itu keluar menemui teman-temannya yang sedang bermain. Mereka bertanya-tanya, ” Mengapa kemarin engkau menangis dan sekarang bahagia tertawa? ”

Bocah itu menjawab,
” Kemarin aku lapar, haus, dan yatim. Tetapi sekarang aku bahagia karena Rasulullah SAW Ayahku. Aisyah Ibuku. Hasan dan Husain Saudaraku. Ali adalah Pamanku dan Fathimah Saudariku. Bagaimana aku tak bahagia…! ”

Ketika Nabi SAW wafat, bocah itu menangis dan bersimpuh di atas pusara Nabi SAW dengan berlinang air mata, ia berkata
” Ya Allah, hari ini aku menjadi yatim yang sebenarnya. Ayahku yang sangat mencintaiku sudah tiada. Apakah aku harus hidup sebatang kara? ”
Maka datanglah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq menghampirinya sambil membujuk dan memeluknya dengan berkata, ” Akulah pengganti ayahmu yang sudah tiada. ”

Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf melanjutkan nasehatnya,
” Orang yang bahagia adalah orang yang menjaga diri dan hatinya untuk mencintai Allah dan RasulNya. Oleh karena itu didiklah jiwa kita dan keluarga untuk senantiasa duduk dan menghadapkan wajah kita kepada Allah SWT. Maka pasti Allah akan memberikan segala-galanya dan tidak akan membìarkan kita begitu saja. Jadikan hari-hari kita tanpa maksiat sehingga kita akan merasakan Hari Raya setiap harinya. Setiap orang hendaknya memanfaatkan waktunya dan tidak menyia-nyiakan baik untuk urusan dunia maupun akherat, karena orang yang menyia-nyiakan waktunya mirip dengan penganggur. Kunjungilah orang-orang Shaleh agar mata kita menatap wajah mereka hingga terekam apa yang mereka lakukan pada diri kita. ”

Demikian sekilas tentang apa yang telah di soroti Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf tentang Hari Raya yang sebenarnya, agar kita meneladani para salaf shaleh dengan memperbanyak syukur dan taat. Semoga yang ringkas ini dapat di jadikan penerang dan penuntun di hari yang penuh Rahmat dan Karunia ini sebagai hari yang di muliakan Allah Dan RasulNYA..

Majalah Cahaya Nabawiy No.45 Th.IV Syawal 1427 H / November 2006 M

Pos ini dipublikasikan di Artikel, Mutiara Hikmah dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kalam Habib Ahmad Bin Abdurrahman Assegaf- Hakekat Eidul Fitri Yang Sebenarnya (2)

  1. Ping balik: Kalam Habib Ahmad Bin Abdurrahman Assegaf- Hakekat Eidul Fitri Yang Sebenarnya (2) « Ahbab Al-Musthafa

  2. diba berkata:

    Jazakallah Kheir Ya Ukhti Almahbubah….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s