Kalam Habib Ahmad Bin Abdurrahman Assegaf- Hakekat Eidul Fitri Yang Sebenarnya (1)

Ungkapan dan uraian nasehat ini bersumber dari pribadi seorang waliyullah yang tertulis dengan tinta emas, sarat akan ajaran-ajaran para salaf shaleh tentang keilmuan dan keteladanan. Seluruh hidupnya di abadikan untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu-ilmu agama. Semenjak usia muda beliau sudah di kenal sebagai pelita di zamannya, karena tidak memiliki nafs duniawi. Tidak sedikit dari para alim ulama’ yang datang berkunjung untuk menuntut ilmu kepadanya. Beliau di kenal sebagai ruhnya para ‘Alawiyyin, serta kepribadiannya sarat akan hasanah ilmu. Di akhir hayatnya beliau masyhur sebagai seorang ulama’ yang muhaqqiq yang mempunyai kekuatan ‘Ain Bashirah (Mata Bathin). Siapapun yang melihat dan mendengar mutiara nasehatnya, pasti memperoleh keterangan tersendiri di dalam bathin nya. Beliau adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf.

Uraian nasehat atau kalam nya terangkum dalam kitab “Majmu’ul Kalam” yang di tulis dan di kumpulkan oleh putra beliau Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Assegaf, Jeddah. Seorang ulama’ dan waliyyullah tersohor akan ilmu dhohir dan bathin yang menampakkan jejak langkah pada tapak ayahnya.

Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf menandaskan agar orang-orang di akhir zaman seperti kita ini tidak sering melihat kelebihan-kelebihan dirinya sendiri. Perhatian beliau tertumpu pada generasi muda untuk mengikuti para salafnya baik dalam berpakaian, berucap maupun berbuat. Sehingga kita dapat kembali menjadi fitrah manusia yang sejati, yaitu meneladani orang-orang tuanya yang sholeh, bukan hanya di banggakan tapi ditiru akhwalnya dalam segala hal. Di contohkan bagaimana mujahadahnya (kesungguhan) dalam menuntut dan beramal dengan ilmunya tersebut.

Beliau menasehatkan pada permulaan Syawwal 1353 H, setelah di bacakan qasidah di hadapan Syi’ir Habib Abdullah Al Haddad. Beliau berkata, ” Lihatlah para salaf kita yang sudah sampai pada puncak ilmu dan amal. Mereka masih menangisi akan langkah dan mujahadah mereka jika di bandingkan dengan para pendahulunya.

Aku mendengar Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi menceritakan, dahulu ada seorang yang bernama Fatah Ibn Sukhruf menangis bersimbah air mata selama 20 tahun dan menangis bersimbah air mata darah pada 20tahun berikutnya. Ketika ia wafat dan di hadapkan kepada Allah SWT, salah seorang muridnya bermimpi, Ia di tanya “Wahai hambaku Fatah bin Sukhruf, engkau menangis selama 20 tahun dengan air mata mengalir, apa yang kau rasakan?” Ia menjawab, “Aku menangis karena aku belum menunaikan kewajiban hak-Mu wahai Allah.” kemudian ia di tanya lagi, “Lalu mengapa engkau menangis bersimbah air mata darah pada 20 tahun berikutnya?” Ia menjawab, ” Aku menangis karena takut dan khawatir apakah tangisanku yang selama 20 tahun itu Engkau terima.”
Maka Allah menjanjikan kepadanya, “Wahai hambaKu demi KemuliaanKu, tidak ada satu kejelekanpun yang ada pada dirimu selama engkau hidup mengabdi Kepada Ku.”

Wahai saudara-saudaraku, Alhamdulillah saat ini kita berada dalam musim Rahmat Allah SWT. Hari ini adalah hari yang agung. Hari Raya Kaum Muslimin yang Mulia. Agama mensyariatkan agar kita bahagia pada hari ini dan menampakkan kebahagian itu. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, “Apabila datang hari Raya Idul Fitri para malaikat berjajar di seluruh sudut jalan sambil berseru, ‘Berbahagialah wahai Kaum Muslimin, berangkatlah menuju rumah Rahmat Allah yang memberikan kepada kalian kebaikan di atas segala kebaikan. Terimalah limpahan pahala ini karena kalian di perintahkan untuk shalat pada malam hari dan perintah itu kalian lakukan. Kalian di perintahkan untuk puasa di siang harinya kemudian perintah itu kalian taati.’

Jika kaum muslimin menyelesaikan Shalat Idul Fitri, mereka berseru kembali, ‘Wahai Kaum Muslimin ketahuilah sesungguhnya Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosa kalìan. Pulanglah ke tempat masing-masing dalam keadaan menang.’ ”

Wahai Saudara-saudaraku, Hari Raya bukanlah bagi orang yang mengenakan baju baru. Bukan bagi yang menghias baju dan kendaraanny. Bukan juga bagi orang yang menghidangkan beraneka ragam makanan. Akan tetapi Hari Raya yang sebenarnya adalah bagi mereka yang bertambah ketaatannya dan terampuni dosa-dosa serta di terima segala taubatnya.

Pernah seorang laki-laki masuk ke rumah Amiri Mu’minin Ali ibn Abi Thalib Kwh. Pada hari Raya Idul Fitri. Saat itu beliau menyantap roti kering tanpa lauk pauk. Orang itu bertanya, “Wahai Amiril Mukminin, hari ini adalah Hari Raya, mengapa engkau menyantap roti seperti ini?”
Maka beliau menjawab, “Hari ini adalah Hari Raya bagi kami, besok adalah Hari Raya bagi kami, lusa adalah Hari Raya bagi kami. Setiap hari kami tidak pernah berbuat maksiat kepada Allah. Itulah kebahagian dan merupakan Hari Raya bagi kami.”

Bersambung..

Pos ini dipublikasikan di Artikel, Mutiara Hikmah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s