Rahasia Kemenangan

Kekuasaan kaisar Romawi sedemikian luasnya, sampai mendekati perbatasan negeri-negeri Arab. Oleh karena itu, dengan bangkitnya persemakmuran Islam di Arab, kekuasaan kekaisaran Romawi mendapat imbangan. Kemajuan yang dicapai oleh Islam menjadi duri di mata kaisar Romawi. Oleh karena itu pula maka konflik akhirnya tak dapat dihindarkan lagi.

Dalam setiap pertempuran, orang-orang Romawi yakin benar bahwa kemenangan akan mereka peroleh dengan mudah karena mereka memiliki pasukan-pasukan dan perlengkapan yang jauh lebih banyak dan hebat. Namun demikian, sejarah telah membuktikan sebaliknya. Mereka selalu dapat dihancurkan oleh pasukan muslimin.

Memperhatikan keadaan itu, kaisar Heraclius dari Romawi memanggil anggota dewan perangnya untuk mengadakan sidang darurat. Dalam sidang itu kaisar berkata antara lain,
“Para jendral !. Tentara Arab lebih lemah dalam jumlah dan perlengkapan perang dibandingkan dengan kalian. Kekuatan mereka dapat dikatakan sama sekali tak berarti apa-apa. Tetapi apa sebabnya sampai sekarang dalam setiap pertempuran kalian tak dapat mengalahkannya?”

Para jendral itu menundukkan kepalanya karena malu sehingga mereka tak dapat membuka mulut. Akhirnya suasana hening yang mencekik itu dipecahkan oleh suara seorang pahlawan Roma
yang telah lanjut
usia,
“Paduka kaisar, Rahasia kemenangan pasukan Arab tidaklah terletak pada senjata dan jumlah pasukan, melainkan pada watak mereka. Mereka melewati hampir seluruh malam dengan berdoa kepada Tuhan dan mereka puasa pada siang harinya jika perlu. Mereka tidak memeras siapapun. Rasa persaudaraan dan persamaan merata di kalangan mereka. Karenanya mereka berani dan gagah dalam pertempuran dan demikian kukuh dalam keyakinan. Tetapi kita?. Kita bangga pada diri sendiri. Kita manja. Tugas-tugas kita diselesaikan dengan mengandalkan bantuan dari wakil-wakil dan ajudan-ajudan kita. Kita menyalahi janji-janji kita. Kita menganiaya yang lemah. Karenanya kita kekurangan ketabahan dan keberanian.”

[Disarikan dari
Rangkaian Tjeritera
dari Sedjarah Islam,
Ahmad DM., hal.
75-77, cetakan I.
penerbit Attahirijah]

Sumber Bisyarah.WordPress.Com

Pos ini dipublikasikan di Akhbar, Artikel dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s