Rasulullah SAW Pemimpin Sejati

Suatu kali Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkhutbah di hadapan para sahabat. “Kaum muslimin sekalian, aku bersumpah atas nama Allah, dan demi hakku atas kalian, bila ada di antara kalian yang pernah aku zalimi, silahkan berdiri dan membalas!”
Para sahabat diam. Beliau SAW mengulangi kata-kata beliau. “Kaum muslimin sekalian, aku bersumpah atas nama Allah, dan demi hakku atas kalian, bila ada di antara kalian yang pernah aku zalimi, silahkan berdiri dan membalas!”

Semua diam. Tak ada yang bergerak, apalagi berdiri. Siapa pula yang berani berbuat demikian kepada Rasulullah SAW, Junjungan mereka. Lagi pula, mana mungkin Rasulullah SAW berbuat zalim?

Nabi SAW mengulangi kata-kata tadi. “Kaum muslimin sekalian, aku bersumpah atas nama Allah, dan demi hakku atas kalian, bila ada di antara kalian yang pernah aku zalimi, silahkan berdiri dan membalas, sebelum pembalasan di Yaumil Qiyamah!”
Seorang lelaki tua renta bernama Ukasyah berdiri. Dia berjalan maju, melewati orang-orang, hingga berdiri tepat di hadapan Nabi SAW. Dia berkata. “Demi ayah dan ibuku, andai saja Baginda tidak mengulang-ulang tawaran Baginda, saya tidak akan maju untuk hal yang satu ini. Saya pernah bersama Baginda dalam suatu peperangan. Setelah Allah SWT memberi kemenangan pada kita dan membantu Nabi Nya SAW, di tengah perjalanan pulang, unta saya berjajar dengan unta Baginda. Saya turun dari unta dan mendekati Paduka. Saya ingin mecium paha Paduka. Tiba-tiba Paduka mengangkat cemeti dan memukulkannya pada paha saya. Saya tidak tahu, apakah itu sengaja Baginda lakukan pada saya ataukah Baginda hendak memukul unta.”
“Aku berlindung pada kebesaran Allah bahwa Rasulullah sengaja memukulmu. Bilal, pergilah ke Fathimah. Ambilkan cemeti kecil panjang.”

Bilal r.a keluar dari masjid sambil tangannya di taruh di atas kepala. “Wahai, ini Rasulullah SAW menyerahkan dirinya untuk di Qishash(di balas)” serunya penuh keluh.

Sampai di rumah Fathimah R.a dia mengetuk pintu. “Wahai putri Rasulullah, ambilkan aku cemeti kecil panjang,”panggilnya
“Apa pula yang akan di perbuat ayahku dengan cemeti itu. Sementara sekarang bukan musim haji, bukan pula hari peperangan?”
“Fathimah, mengapa anda lupa dengan apa yang di perbuat hari-hari ini oleh Ayahanda Anda. Nabi SAW sedang menitipkan agama, hendak berpisah dari dunia dan menyerahkan diri beliau untuk di qishash.”
“Bilal, siapakah yang tega membalas Nabi SAW? Bilal, katakan pada Hasan Husain supaya mereka bangkit untuk menggantikan Nabi SAW guna menerima qishash. Jangan sampai mereka membiarkan lelaki itu membalas pada Nabi SAW.” Pinta Sayyidah Fathimah r.a

Bilal kembali ke masjid sambil membawa cemeti. Rasulullah SAW menerima itu cemeti dan langsung memberikannya kepada Ukasyah r.a. Ketika Abu Bakar r.a dan Umar r.a melihat hal itu, keduanya serentak berdiri. “Ukasyah, kami berdua kini berdiri di depanmu. Balaslah pada kami dan jangan membalas pada Nabi SAW.”
“Abu Bakar dan kau Umar, biarkan dia, minggir kalian. Allah telah mengetahui tempat kalian berdua.” tegur Nabi SAW

Selanjutnya Ali bin Abi Thalib K.w berdiri, dan berkata,”Ukasyah, sepanjang hayat di kandung badan, aku akan selalu berada di hadapan Rasulullah SAW. Aku tidak rela Nabi SAW di pukul di hadapanku. Ini dia punggungku dan perutku. Balas aku dengan tanganmu dan pukullah aku seratus kali, tetapi jangan kau membalas pada Nabi SAW” “Ali duduklah! Allah telah mengetahui tempatmu dan niatmu.” pinta Nabi SAW

S. Hasan r.a dan S. Husain r.a berdiri. “Ukasyah, tidak tahukah kamu bahwa kami ini cucu-cucu Rasul SAW. Membalas pada kami sama dengan memabalas kepada Nabi SAW.”
Nabi SAW menukas, “Duduklah kalian berdua. Wahai permata hatiku. Mudah-mudahan Allah tidak melupakan maqam kalian.”

Lalu beliau SAW berpaling pada Ukasyah r.a. “Ukasayah pukullah, kalau kau hendak memukul.” “Rasulullah, Baginda memukul saya dalam keadaan perut saya terbuka.”
Beliau SAW membuka baju Beliau di bagian perut. Para sahabat menangis. “Tidakkah kamu lihat, wahai Ukasyah si pemukul Rasulullah SAW?” kata mereka.

Begitu Ukasyah melihat putih mulia perut Nabi SAW, dia tak tahan lagi. Dia langsung memeluknya dan mencium perut mulia beliau SAW. “Demi ayah dan ibuku, siapakah yang sanggup membalas pada Baginda?” ujarnya. Beliau SAW bertanya, “Apakah kamu hendak membalas atau kamu memaafkan?”
“Saya telah memaafkan Baginda karena berharap Allah mengampuni saya di hari kiamat.”
Beliau SAW bersabda, “Barangsiapa ingin melihat kawanku di syurga, pandanglah orang tua ini.”

Betapa luhur budi pekerti Beliau SAW!!! Beliau SAW adalah tipe pemimpin sejati. Bila ada kenikmatan, tidak pernah Beliau SAW menikmati sendirian. Beliau SAW mengajak orang lain. Bahkan mendahulukan mereka. Namun apabila ada urusan yang tidak enak, Beliaulah yang berada paling depan.

Allah SWT memuji sosok nya SAW dalam Al Qur’anul Kareem yang terdapat dalam surat Al Qalam, ayat 4 yang Artinya, “Dan sungguh kamu memiliki budi pekerti yang agung.”

Pos ini dipublikasikan di Rasulullah Muhammad SAW dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s